October 25, 2014 1:58 pm
Berita

Penanganan Banjir di Sidareja, Cilacap, Warga Diminta Buat Biopori

CILACAP, SATELITPOST-Bencana banjir yang terjadi di Kecamatan Sidareja dan sekitarnya sudah bisa diprediksi. Berbeda dengan gempa dan juga angin puting beliung yang memang belum bisa diprediksi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap Supriyanto mengatakan, banjir bisa diprediksi karena bergantung pada tata hidrologi yang berpengaruh terhadap tata kelola lingkungan.

“Artinya kita semua bisa melihat beberapa sumbatan di daerah aliran sungai yang bisa diatasi. Di Sidareja dan Kawunganten serta sekitarnya permasalahan ini harus dengan serius ditangani,” katanya.

Persoalan banjir ini, kata dia merupakan persoalan dari hulu dan hilir. Di bagian hulu atau Segara Anakan, kata dia karena tujuan akhir aliran-alirang sungai ini sudah tidak bisa menampung air dari daerah hilir. Sehingga air yang mengalirpun menjadi berbalik dan membuat genangan di sekitar aliran sungai. Selain itu di daerah hilir, dimana tata hidrologi di sungai Citanduy dan juga Sungai Cimendawai masih kurangbaik.

Mulai tahun ini, pihaknya memiliki strategi lain dalam menghadapi berbagai persoalan bencana yang terjadi di Cilacap ini. Pihaknya akan melakukan roadmap di masing-masing daerah, yang memiliki potensi bencana banjir, longsor, tsunami, dan lainnya.

Selanjutnya, di masing-masing UPT dan juga komponen masyarakat akan dibuat workshop sesuai dengan potensi bencana pada daerah tersebut.

“Kita akan selalu berbenah terkait software dalam rangka evaluasi penanganan bencana,” katanya. Tidak hanya tangungjawab dari BPBD saja, pihaknya juga akan menggandeng instansi terkait atau perusahaan yang memiliki teknologi lebih baik dalam penanganan bencana.

Langkah nyata yang akan dilkaukan, kata dia dengan meyakinkan kepada masyarakat untuk membuat biopori, pasalnya biopori ini bisa mengurangi longsoran dan banjir sekitar 30 persen. Sehingga air hujan yang ada tidak semuanya akan masuk ke sungai, sehingga mengurangi debit air yang masuk ke sungai. Selain itu, pihaknya juga akan membuat talud dan juga bronjong di lokasi-lokasi rawan longsor.

“Nantinya kita akan lebih mengedepankan lokal wisdom, seperti kerjbakti, normalisasi sungai tanpa harus di komando oleh pemerintah, teapi kesdaran dari masyarakat sendiri,” ujarnya. Sehingga diharapkan, banjir yang selalu datang dan terjadi di daerah Sidareja bisa berangsung tertangani.

Terkait dengan pengungsi banjir yang beberapa saat lalu mengungsi di musala Koramil Sidareja, Supriyanto mengatakan sudah seluruhnya kembali ke rumah masing-masing. Karena air sudah surut di dalam rumah dan lingkungannya.

“Seluruh pengungsi banjir di musala koramil, sudah kembali ke rumah masing-masing,” ujarnya.

Para pengungsi ini sudah menempati musala koramil Sidareja sejak tanggal 26 Januari lalu. Setelah hujan lebat yang mengguyur Sidareja dan sekitarnya membuat genangan air meninggi mencapai 1,5 meter di dalam rumah. Membuat sebanyak 45 kepala keluarga mengungsi atau sebanyak 155 jiwa. (ale)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top