Banjarnegara

Petani Tolak Nilai Ganti Rugi

Warga Ancam Segel Kantor Geo Dipa

satelit post | Selasa, 16 Mei 2017 - 11:34:00 WIB | dibaca: 54 pembaca

 

BATUR, SATELITPOST-Sebanyak 120 petani kentang dan kobis menolak nilai ganti rugi yang ditawarkan tim Geo Dipa sesuai rekomendasi  kantor jasa penilaian publik (KJPP). Ganti rugi itu terkait ledakan sumur panas bumi PT Geo Dipa Energy (GDE) Dieng Pad 30 yang terjadi di bulan April 2016. Jika tak ada titik temu, petani mengancam akan menyegel kantor PT Geo Dipa Energy

 

 

Penolakan tersebut disampaikan warga saat pertemuan para petani dengan PT GDE Dieng, Forkompinca Batur dan Perwakilan Kabupaten Batang, Senin (8/5) di kantor PT GDE Dieng. Warga dan petani berasal dari  Dusun Pawuhan Desa Karangtengah Kecamatan Batur, Banjarnegara dan Dusun Rejosari Desa Pranten Kecamatan Bawang Kabupaten Batang sudah memadati pelataran kantor PT Geo Dipa Energy sejak pukul 09.00 WIB. Namun, karena tidak kunjung selesai, mulai memaksa masuk kantor PT Geo Dipa Energy.

 

Perwakilan petani asal Desa Karangtengah Batur, Andika mengatakan, pertemuan tersebut dilatarbelakangi adanya perbedaan harga ganti rugi tanaman dalam keputusan KJPP setelah melakukan penelitian dan pengecekan di lapangan. "Harga yang diputuskan KJPP sangat rendah sehingga kami menolak. Seperti kentang harga KJPP Rp. 6.000 per kg sedangkan kesepakatan adalah Rp. 13.000 per kg," katanya.

 

Menurut dia, sesuai kesepakatan antara warga dengan PT Geo Dipa Energy pembayaran ganti-rugi lahan tahap ketiga dilakukan pada Senin (8/5). Mengingat akibat ledakan sumur tersebut, tanaman kentang dan kobis milik warga hangus dan gagal panen. “Sesuai perjanjian pada 6 April 2017 lalu akan dibayar pada akhir bulan itu namun mundur tanggal 8 Mei,” katanya.

 

Dikatakannya, warga sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Bahkan, jika masih belum ada titik temu, warga akan segel kantor PT Geo Dipa Energy. "Jika perlu kami akan menginap di sini (kantor PT Geo Dipa Energy),” katanya.

 

Warga lainnya Slamet mengatakan, warga juga menuntut ganti rugi atap rumah yang ikut terdampak ledakan sumur panas bumi tersebut. Sebab, akibat ledakan itu, atap rumah berupa seng rapuh dan pada akhirnya bocor. “Banyak rumah warga yang bocor akibat ledakan sumur panas bumi tahun lalu,” katanya.

 

Camat Batur, Herry Kartika yang ikut melakukan audensi mengatakan, alotnya audensi  tersebut karena masih adanya perbedaan harga tanaman. Sesuai keputusan Kantor Jasa Penilai Publik (KJJP) harga kentang Rp 6 ribu per kilogram. “Kami tengah melakukan upaya-upaya untuk mencari titik temu,” katanya.

 

Selain bernegosiasi dengan jajaran PT Geo Dipa Energy di Desa Karangtengah, pihaknya juga berdialog dengan PT Geo Dipa Energy yang ada di Jakarta. Hingga pukul 15.30 WIB, audensi masih berlangsung dan belum ada titik temu soal kepastian harga ganti rugi.

 

Hasil sementara negosiasi,  besok (hari ini ,Red) pukul 16.00 WIB di ruang rapat PT. GDE, Camat Batur dan Camat Bawang Batang akan melakukan teleconference dengan Dirut PT. GDE untuk lakukan pembahasan ulang mengenai harga ganti rugi. (gatotgat@yahoo.com)

 

 

 

Inilah Kisah Ledakan Tahun Lalu

 

Sumur panas bumi Dieng 30 Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Dieng Banjarnegara, Senin (13/6/2016) sekitar pukul 09.21 WIB meledak. Akibat kejadian tersebut, seorang pegawai PT Geo Dipa Energy (GDE) Unit Dieng meninggal dan 5 lainnya luka berat dan ringan.

Korban meninggal adalah Joko Irawanto, yang menjabat Supervisor Steam Field. Ia meninggal di RSUD Wonosobo pukul 17.01 setelah menjalani perawatan beberapa jam di rumah sakit tersebut.

 

Sedangkan korban luka-luka lainnya adalah Samuri Budiarso (Operator Steam Field), Supriyono (Operator Steam Field), Supartono (Maintenance Steam Field), Yudi Iskandar (Operator Steam Field) dan Vandi Pratama (Staff HSE). Tiga di antaranya, Yudi Iskandar, Supartono dan Supriyono mengalami luka bakar berat dan dirawat di RSI Wonosobo sedangkan Vandi Pratama dan Samuri Budiarso luka ringan, dirawat di RSUD Wonosobo.

 

Selain menimbulkan korban jiwa dan luka, ledakan tersebut juga mengakibatkan beberapa hektare tanaman kobis dan kentang di sekitar sumur panas bumi yang terletak di Dusun Pawuhan Desa Karangtengah itu dipastikan gosong akibat terkena semburan material panas dari perut bumi.  

Manajer Operasi Power Plant PLTP Dieng, selaku pelaksana tugas general manajer PT GDE Unit Dieng, Burhan, mengatakan, pada Senin sekitar pukul 09.20 para korban sedang melalukan tugas rutin  memonitor dan memelihara sumur produksi Pad 30.

 

Sebanyak 3 orang operator sumur melakukan monitoring operasi Steam Field/produksi dalam kondisi sumur buka datar ke Atmosferic Flash Tank (AFT), 2 Orang operator melakukan pekerjaan loading acid dan 1 orang  staff HSE bertugas melakukan pengawasan.

 

Menurut Burhan, saat itu ada program pengurangan bukaan katup throttle ke separator karena ada pekerjaan perbaikan pipa di area separator. Tiba-tiba terjadi ledakan dari arah sumur, disebabkan lepasnya S-bend dari kepala sumur yang berada pada ketinggian. "Arah semburan ke tanah dan menyebabkan terlontarnya material batu dan pasir di sekitarnya dan mengenai para pekerja di area tersebut," katanya. Tekanan semburan sangat kuat antara 10-11 bar, sehingga material bebatuan di titik yang terkena semburan terangkat.

 

Setelah kejadian,  dilakukan tindakan cepat.  Pada pukul 09.25 PT GDE Unit Dieng melakukan pengamanan dengan langkah-langkah Safety Induction menutup master valve I (lower master), membuka katup bleeding ke by pass AFT, melakukan evakuasi dan pengecekan ulang semua peralatan dari lokasi Pad 30. "Kami tidak menemukan korban lain. Selanjutnya dilakukan sterilisasi lokasi dan pemasangan police line oleh polisi," katanya.

 

Tentang penyebab lepasnya pipa S-bend di kepala sumur, Burhan mengesampingkan kemungkinan akibat naiknya tekanan uap panas. "Untuk memastikan penyebabnya, masih dilakukan penyelidikan oleh tim independen," katanya.

 

Menjawab pertanyaan wartawan, Burhan mengatakan, ledakan di sumur Dieng 30 tak berpengaruh terhadap operasional pembangkit PLTP Dieng yang berkapasitas maksimal 60 Mega Watt.

 

Turbin pembangkit listrik tersebut mengandalkan pasokan uap panas bumi dari 8 sumur produktif yang masing-masing berkedalaman hingga lebih dari 2.000 dari permukaan tanah.

 

Sugiyanto, seorang  buruh tani yang berada pada jarak sekitar 300 meter dari lokasi sumur menuturkan, suara ledakan sangat keras disertai asap gelap. "Saya berlari menjauh sekuat tenaga. Beberapa perempuan juga berlarian sambil menjerit-jerit," katanya. Saksi lain, seorang buruh tani perempuan, Runtah, mengaku sedang melangsir kentang tak jauh dari lokasi bersama sejumlah temannya.  "Kami semua panik. Suasananya sangat menakutkan," katanya.

Yanto, buruh tani lainnya mengatakan, setelah terdengar ledakan, dirinya pasrah membayangkan kondisi sepeda motornya yang diparkir di sekitar pabrik hancur akibat ledakan sumur. "Ternyata hanya menghitam terkena semburan material warna hitam," katanya.

 

Pengamatan di sekitar lokasi ledakan, areal tanaman kobis dan kentang maupun pembibitan aneka sayuran yang berada pada radius 150-an meter dari lokasi sumur, terkena semburan dan tampak gosong.

 

Pelaksana tugas general manajer PT GDE Unit Dieng, Burhan, mengaku belum memperoleh laporan tentang kerusakan tanaman milik petani. (gatot)

 

 










    Komentar Via Website : 0


    Nama

    Email

    Komentar



    Masukkan 6 kode diatas)