Opini & Budaya

Tiada Guna Mengutuki Kegelapan

Magang Dua | Senin, 17 April 2017 - 10:19:03 WIB | dibaca: 16 pembaca

Di sebuah dusun, seorang ibu muda ditinggal mati suaminya. Anak-anaknya masih kecil. Di situ pula tinggal mertuanya yang sakit. Nestapa benar hidupnya. Sedih dan tidak bisa menghentikan air matanya kalau ingat kejadiannya. Suaminya meninggal saat pagi-pagi pergi hendak menjual sayuran ke kota. Gerobak penuh sayuran yang dikendarainya meluncur masuk ke jurang. Semula, di jalanan menurun di desa itu, ia hendak menghindari kucing yang lagi memakan tikus di tengah jalan. Namun malang roda gerobak patah dan ia tidak bisa mengendalikan gerobaknya sebab tangan kanannya yang utama untuk bekerja tergores paku gerobak hari yang kemarin hingga luka yang mendalam. Terjunlah ia ke jurang dan tidak bisa tertolong lagi.

Suaminya telah mati. Binatang pengangkut juga mati. Sayuran telah basi. Banyak kerabat yang simpati, menghibur agar segera bangkit lagi. Namun berbagai nasehat penghiburan tidak ada yang berhasil  menghentikan  kesedihan itu. Hingga saat tengah malam,  malaikat datang menghibur dia dan memintanya untuk pergi kepada Salus, seorang rabi bijak yang tinggal di dekat dusun itu.

Keesokan harinya pergilah wanita kepada rabi Salus. Ia mencari penyelesaian atas nestapa kegelapan hidupnya. Rabi Salus berujar, “Saya akan menolong engkau, asalkan engkau bisa memenuhi permintaan saya.” “Semua permintaan rabi akan saya turuti, demi ketenangan saya!” Rabi pun bilang, “Temukan tujuh butir biji sesawi dari setiap rumah yang kamu temui tidak ada dukanya.” “Berapa rumah yang harus kucari?” tanggap janda itu penuh semangat. “Biar hari-hari kesedihan menjadi doa, engkau mencari 40 rumah yang punya biji sesawi!” ujar rabi Salus.

Kemudian wanita itu memulai pencariannya dengan penuh harapan. Namun di setiap rumah yang dia kunjungi, dia menemukan orang-orang berduka karena kematian dan pencobaan-pencobaan dari orang-orang yang dikasihi. Butir sesawi tidak sulit ditemukan tetapi menemukan orang-orang yang tidak punya duka teramat sulit.

Belum sampai rumah ke-40 dia sudah balik ke rabi Salus dan berkata, ”Betapa ingat diri saya ini. Kesedihan ada di mana-mana. Kesusahan mereka jauh lebih besar dari pada diriku.” Orang bijak itu berkata, “Aha...engkau telah menemukan sesuatu yang sangat berharga yang mengumpulkan kebijaksanaan tiada ternilai harganya. Itu tidak hanya membantumu mengatasi rasa sedihmu tetapi juga menolong engkau untuk berempati, berbelas rasa dengan orang-orang lain yang bersedih hati karena ditinggal mati orang yang mereka kasihi. Engkau menyalakan terang.” (cerita bijak, anonimous).

           

Tidak ada kesedihan yang sama. Tiap insan mempunyainya secara berbeda. Bahkan orang lain sering jauh lebih berat cobaannya. Itu yang membahagiakan kita bila kita tidak lagi menggunakan ukuran kita sendiri. Kita tidak meletakkan ukuran-ukuran pada kita sendiri maupun orang lain.

Tiada guna mengutuki kegelapan. Lebih baik menyalakan terang. Begitulah kenyataannya. Habis tenaga dan pikiran kita bila hanya bergulat dalam kegelapan. Akan membuat kita menyalahkan orang lain atas deraan yang menimpa kita. Misalnya dompet yang tertinggal di tempat ibadat, sudah diambil orang saat ditinggal ke toilet. Kita menyalahkan pasangan kita yang tidak mengawasi barang bawaan kita, kita menyalahkan petugas jaga yang tidak mengawasi semua gerak-gerik orang beribadah. Atau kita menyalahkan diri kita sendiri karena konyolnya melakukan kesalahan. Mengapa mesti membawa dompet ketika pergi ke rumah ibadah? Atau mengapa harus pergi ke rumah ibadah segala sebelum pergi ke mall? Kenapa tidak langsung saja perginya ke mall? Tindakan bodoh keteledoran kita seperti membiarkan anak-anak bermain leluasa tanpa pengawasan kita sementara kita sendiri asyik bermain HP. Anak itu berlari keluar rumah dan tertabrak motor yang lalu lalang di jalan raya. Seribu sesal akan menyesakkan nafas kita.

Menyalakan terang dengan mengakui kealpaan dan mencari cara-cara yang bisa lebih cepat menyelesaikan akan mengalirkan daya-daya positif. Percaya pada orang yang bisa membantu mengurai keruwetan hidup. Berbagi dengan rekan secara langsung dan bukan curhat lewat HP. Tatap mata pada sahabat dan gerak tubuh akan mengendorkan daya-daya negatif. Juga membawanya dalam doa akan membuat kita lebih kuat. Kita punya harapan bahwa kebaikan atau kasih lebih kuat daripada keburukan dan kejahatan. Hidup lebih berharga dari penderitaan, bahkan kematian sekalipun. Terang lebih berkuasa daripada kegelapan.

Bagi umat beriman Kristiani, Paskah dirayakan setelah wafat Yesus, Al Masih.. Setelah jenasah Yesus dibaringkan dalam kubur gua, Ia tidak ada lagi ditemukan di dalamnya. Para wanita seperti Maria Magdalena dan Maria yang lain yang mau merawat pusara Yesus, menyaksikan pintu penutup kubur telah terbuka. Jenasah Yesus tidak ada lagi. Murid-murid Yesus seperti Yohanes dan Petrus juga menyaksikan yang ada dalam pembaringan hanya kain lenan dari luka-lukanya Yesus. Murid-murid lalu ingat pesan Sang Guru saat masih hidup bersama. “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang telah dikatakan-Nya kepada kamu ketika masih di Galilea? Ia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan dan akan bangkit pada hari yang ketiga.”(Luk 24:5-7)

Dalam kesehariannya, Yesus hadir secara baru saat para murid bekerja. Yesus hadir saat para murid berdoa dan memecahkan roti. Yesus hadir dalam perjalanan murid di Emaus. Paska menggantikan kedukaan. Maut diganti dengan kehidupan. Berita sukacita bahwa Tuhan hadir di setiap saat dan tempat.

Tidak berlebihan mengutuki berbagai cobaan yang ada. Bukan sekadar nasib, apalagi nasib buruk, melainkan rahmat karena masih punya kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik. Dengan harapan, niat baik dan keyakinan akan bertemu dengan mereka yang sama-sama mengalami cobaan, malahan membuat pernyataan peneguhan bagi sesama bila tidak sendirian dalam menghadapi cobaan. Cahaya dinyalakan. Kegembiraan penghiburan diterima. Paskah, yang artinya Tuhan lewat merupakan puncak syukur akan kekuatan untuk tidak mengutuki kegelapan melainkan menyalakan cahaya-Nya. Moga-moga kegelapan hidup umat tidak pernah membuat kita jadi putus asa melainkan punya ketekunan dan kesabaran untuk menyalakan cahaya. Itulah pengalaman iman kita. Gusti mberkahi. Soter@bdtoro.

RD. Ag. Dwiyantoro

Pastor/ Imam Gereja  Katolik St Yosep  










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)