Purbalingga

- Polres Fasilitasi Pertemuan Tertutup

PT GDE dan Petani Sepakati Ganti Rugi

satelit post | Jumat, 19 Mei 2017 - 12:59:43 WIB | dibaca: 23 pembaca

 

BANJARNEGARA, SATELITPOST-PT Geo Dipa Energi (PT GDE), pengelola sumber energi panas bumi di dataran tiggi Dieng Banjarnegara, akhirnya menyepakati pembayaran ganti rugi tahap ketiga kepada petani setempat.

Nilai ganti rugi tanaman yang rusak akibat ledakan sumur gas beberapa waktu lalu itu, disepakati dalam pertemuan antara PT GDE dengan petani setempat di aula Polres Banjarnegara, Jumat (12/5).

Pertemuan tersebut dipimpin langsung Kapolres Banjarnegara, AKBP Saiful Anwar didampingi Komandan Kodim 0704 Banjarnegara, Letkol Inf Bagas Gunanto. Selain itu, hadir pula Asisten I yang mewakili Penjabat Bupati Banjarnegara, Siswanto, serta Wakil Ketua DPRD Banjarnegara, Bawono.

Kapolres Banjarnegara, AKBP Saiful Anwar mengatakan, penyelesaian persoalan tersebut memang harus dilakukan dengan duduk bersama dan bermusyawarah. Sehingga, semuanya mempunyai semangat yang sama mencari penyelesaian bukan mencari pembenaran.

"Dengan saling mendengarkan, permasalahan bisa selesai dan tidak berlarut-larut," katanya.

Hery Kartika, Camat Karangtengah Batur yang mewakili petani terimbas berharap, semua pihak bisa memahami posisi para petani terdampak. Dia meyakinkan bahwa para petani warganya, bukan petani rewel yang maunya menang sendiri.

"Petani kami ini sudah sangat pengertian kepada PT GDE. Buktinya pembayaran ganti rugi tahap I dan II, tidak ada masalah," ujarnya.

Petani Sudah Ikhlas

Pada peristiwa Juni tahun lalu itu, sejumlah atap seng milik petani terdampak rusak parah. Hery mencontohkan bentuk lain pengertian warganya yang hanya meminta dibantu seng baru masing-masing 50 lembar saja.

"Padahal, rata-rata kerusakan seng di tiap rumah mencapai 100-150 lembar," katanya.

Karena itu, dia berharap PT GDE juga tidak hanya berpatokan pada nilai baku hasil apraisal kantor jasa penilaian publik (KJPP) yang ditugaskan menghitung besaran nilai ganti rugi tahap tiga.

"Idealnya PT GDE ini pertimbangkan keikhlasan para petani terdampak pada saat pembayaran ganti rugi tahap tiga nanti. Mana mungkin ganti rugi kentang hanya dihargai Rp 6000 perkilogramnya," katanya.

Menanggapi hal tersebut, perwakilan KJPP, Febi Irawan membenarkan, bahwa pihaknya memiliki kewenangan menilai aset tanaman yang rusak imbas dari ledakan di sumur gas panas bumi tersebut.

"Untuk diketahui, kami bertugas menilai bukan mendata. Data yang dinilai semuanya berasal dari Dinas Pertanian dan Pemerintah Kecamatan Batur," katanya.

Terkait nilai ganti rugi, penentuannya berdasarkan rekap data harga rata-rata dari pertanian setempat tiap bulan.

Dalam penentuan besarannya, KJPP menghitungnya berdasarkan usia tanaman dan perkiraan harga komoditas pada saat panen dikurangi jumlah biaya yang belum dikeluarkan petani sampai usia tanaman rusak terkena ledakan.

"Ganti rugi tidak kami hitung global, tapi dihitung berdasarkan usia tanaman dan perkiraan harga saat panen," ujarnya.

Mekanisme Resmi

Sementara itu, Dirut PT GDE, Riki Firmanda Ibrahim mengatakan, PT Geo Dipa Energi merupakan perusahaan yang pemegang sahamnya adalah pemerintah RI. Sehingga dalam pengelolaannya, tentu saja menggunakan uang rakyat.

"Kami tidak bisa serta merta apalagi merekayasa keuangan. Semuanya harus melalui mekanisme, termasuk menggunakan jasa KJPP dalam penghitungan ganti rugi," katanya.

Kesepakatan harga ganti rugi akhirnya terjadi setelah pertemuan tertutup antara perwakilan petani, Forkompinda, dan jajaran direksi PT GDE. Dalam kesepakatan tersebut, perhitungan ganti rugi materiil dan non materiil ditetapkan melalui metodologi KJPP.

Kentang dihargai Rp 11.750 per kg, dengan rata-rata per hektar menghasilkan 20,35 ton. Kemudian wortel dihargai Rp 6.250 per kg per meter persegi, cabe tipe 1 Rp 239.040 per pohon, cabe tipe 2 Rp 119.520 per pohon, dan cabe tipe 3 dinilai Rp 95.616 per pohon.

Kubis kemudian dihargai Rp 4.500 per 3,5 kg per meter persegi, carica tipe 1 dengan harga Rp 540 ribu per pohon, carica tipe 2 Rp 270 ribu per pohon, carica tipe 3 Rp 135 ribu per pohon.

Selanjutnya, terong belanda dengan harga Rp 250 ribu per pohon, kacang dieng Rp 20 ribu per rumpun, bawang daun Rp 15 ribu per rumpun, seledri Rp 7000 per rumpun, dan cabe monokultur dihitung berdasarkan luasan lahan.(gatotgat@yahoo.com)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)