Kesehatan

oleh : dr. Abdul Hakim N, MH, SpKF, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwo

Perlunya Thanalogi Oleh Tenaga Medis di Rumah Sakit

Magang Dua | Kamis, 20 April 2017 - 10:21:44 WIB | dibaca: 11 pembaca

ILUSTRASI /FOTO NET

Pasien yang dinyatakan meninggal di suatu Rumah Sakit pada umumnya dibuktikan dengan berhentinya denyut jantung, berhentinya pernafasan, dan pelebaran maksimal (midriasis) pupil pada mata. Secara teori, diagnosis kematian sudah dapat ditegakkan jika jantung dan paru-paru sudah berhenti selama 10 menit, namun di lapangan sering terjadi kesalahan diagnosis sehingga perlu dilakukan konfirmasi dengan cara mengamati selama waktu tertentu. Kebiasaan yang berlaku di Indonesia adalah mengamati pasien yang dinyatakan meninggal selama 1 – 2 jam. Oleh karena itu, pasien yang sudah dinyatakan meninggal secara klinis baik di IGD, rawat inap atau ICU jangan terlalu cepat untuk dibawa ke Instalasi Kamar Jenazah, untuk menghindari kesan adanya mati suri pada pasien. Jadi akan lebih baik bila pasien yang sudah meninggal perlu diobservasi dulu maksimal 2 jam sebelum dibawa ke Instalasi Kamar Jenazah.

Mengenai hal tersebut, sebaiknya tenaga medis terutama dokter umum perlu mengantongi ilmu thanatologi yang sudah pernah dipelajari saat jenjang sarjana kedokteran dan profesi dokter. Thanatologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati; meliputi pengertian, cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati dan manfaatnya. Dalam hal ini difokuskan pada perubahan-perubahan yang terjadi sesudah pasien meninggal. Pasien yang sudah meninggal akan mengalami lebam mayat, kaku mayat, penurunan suhu tubuh mayat, dan pembusukan. Keempat elemen tersebut merupakan tanda pasti kematian pada pasien dan perlu diamati oleh dokter maksimal 2 jam.

Lebam mayat merupakan salah satu tanda pasti kematian yang terjadi karena pengendapan eritrosit sesudah kematian akibat berhentinya sirkulasi dan adanya gravitasi bumi ditandai dengan adanya warna merah keunguan pada salah satu atau beberapa tubuh korban. Eritrosit akan menempati bagian terbawah tubuh dan terjadi pada bagian tubuh yang bebas dari tekanan. Lebam mayat dapat diamati sekitar 1 – 2 jam setelah pasien meninggal.

Kaku mayat merupakan salah satu tanda pasti kematian yang terjadi akibat proses biokimiawi, yaitu pemecahan ATP menjadi ADP. Kurangnya phospocreatin mengakibatkan resintesis ATP ikut berkurang sehingga terjadi penumpukan ADP. Kaku mayat dimulai dari otot-otot kecil hingga besar, dapat diamati sekitar 1 – 2 jam setelah pasien meninggal.

Penurunan suhu tubuh mayat merupakan penurunan suhu tubuh yang terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke benda yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi. Sesudah mati, metabolisme yang menghasilkan panas akan terhenti sehingga suhu tubuh akan turun menuju suhu udara atau medium di sekitarnya. Penurunan suhu tubuh pada pasien yang meninggal dapat dilakukan lewat dubur (per rektal) dengan menggunakan termometer kimia yang panjang (long chemical thermometer), dan dapat diamati sekitar 1 jam setelah pasien meninggal.

Pembusukan akan dialami oleh pasien yang sudah meninggal. Pembusukan yang terjadi pada tubuh mayat disebabkan oleh proses otolisa dan aktivitas mikroorganisme. Proses otolisa terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim yang dilepaskan oleh sel-sel yang sudah mati. Timbulnya proses tersebut sekitar 24 – 48 jam setelah pasien meninggal.

Dari keempat elemen tersebut, maka yang perlu diamati oleh dokter yang bertugas baik di IGD, rawat inap atau ICU minimal satu hingga dua tanda pasti kematian yaitu lebam mayat dan kaku mayat pada pasien yang sudah meninggal. Dengan adanya kedua tanda tersebut, maka sudah dipastikan bahwa pasien benar-benar sudah meninggal, sehingga dokter dapat lebih leluasa menuliskan hasil pemeriksaan pasien yang meninggal di surat keterangan kematian. Setelah melakukan pengamatan pada pasien yang sudah meninggal selama 1 hingga 2 jam, pasien tersebut dapat dibawa ke Instalasi Kamar Jenazah.

Dengan adanya thanatologi yang diterapkan oleh tenaga medis, dapat mencegah timbulnya kesalahan diagnosis kematian dan kesan mati suri pada pasien yang sudah meninggal, dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan di Rumah Sakit. (*)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)