Wanita

Dr Amelia SpKK, RSUD Prof Dr Margono Soekarjo

Mengabdi di Pelosok Desa

Magang Dua | Senin, 03 April 2017 - 10:26:40 WIB | dibaca: 26 pembaca


SELAYAKNYA abdi negara dan abdi masyarakat, setelah lulus menjalani masa studi kedokteran. Dokter akan menempuh masa mengabdi di beberapa daerah yang ditunjuk pemerintah. Seperti itu pula yang dijalani dr Amelia SpKK awal kariernya sebagai dokter umum.

Dokter yang sekarang praktek sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin RSUD Prof Dr Margono Soekarjo (RSMS) ini pun pernah mengabdikan diri di desa terpelosok. Sekitar tahun 1982 di Kabupaten Purbalingga.

Ia ditempatkan di Puskesmas Kecamatan Kemangkon dan membawahi 19 desa. Kecamatan Kemangkon pada masa itu, jauh berbeda dengan sekarang. Di era 80-an, kecamatan yang dikenal langganan banjir itu belum teraliri listrik.

Jangankan listrik, dulu, kondisinya belum padat penduduk seperti sekarang. Masih banyak pohon kelapa dan hamparan sawah hijau membentang nan luas tanpa penerang jalan.

Telepon genggam maupun telepon kabel pun belum ada. Sehingga untuk komunikasi dengan kepala desa, dan pejabat lainnya masih menggunakan handy talky (HT).

Namun semua itu tak membuat Amelia gentar. Sebaliknya, dia merasa sangat menikmati masa-masa mengabdikan diri selama 7 tahun di sana.

"Senang sekali mengabdi di sana, karena pengabdiannya terasa sekali. Kehadiran tenaga medis di sana sangat bermanfaat. Satu kecamatan, 19 desa, cuma satu dokter," kata dr Amelia.

Mengabdi di desa terpencil pada masa itu, membuatnya bukan hanya berprofesi sebagai seorang dokter saja. Tapi juga merangkap sebagai penasehat, penyuluh, UKS, KB, membimbing dokter kecil dan hampir semua pekerjaan yang berhubungan dengan kesehatan ia lakukan.

Selama masa bakti di Kemangkon, setiap hari ia selalu keliling desa-desa, untuk posyandu dan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) memberikan edukasi kesehatan pada masyarakat. Setiap di PKMD, ia berikan edukasi bagaimana cara hidup sehat. Supaya masyarakat sadar akan pola hidup bersih dan sehat, misalnya seperti mengeluarkan hewan ternak dari dalam rumah.

Selain itu juga tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Pasalnya, pada masa itu, angka kematian ibu dan bayi masih cukup tinggi. Karena pada masa itu, dukun bayi masih sangat berperan membantu persalinan.

"Edukasi dukun bayi juga dilakukan sesuai jadwal," kata dia.

Masih teringat jelas dalam memori dr Amelia SpKK saat Nani Sudarsono, menteri sosial pada masa itu meninjau banjir yang cukup besar di Kemangkon. (alfisatelitpost@gmail.com)

 

Ingin Menolong Banyak Orang (jud)

Dr Amelia SpKK mengungkapkan, pada masa kecilnya, tenaga medis, khususnya dokter masih sangat sedikit. "Mencari dokter di Purbalingga waktu itu masih sulit. Pada tahun 50-an sampai 60-an hanya ada di Kota Purbalingga. Sedangkan di desa-desa masih belum ada dokter,” kata dr Amelia SpKK.

Karena sedikitnya dokter di Kabupaten Purbalingga, wanita kelahiran Purbalingga ini pun mengaku ingin menjadi seorang dokter sejak kecil. Pasalnya, menurut dia, banyak orang-orang yang sangat membutuhkan tenaga dokter di desa.

Dengan menjadi dokter, menurutnya, ia bisa berbuat banyak hal untuk orang lain. Ia bisa menolong orang-orang yang sakit. "Hanya ingin menolong banyak orang. Ada kepuasan tersendiri saat menolong orang," katanya.

Keinginanya, ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Kedua orangtuanya sangat mendukung cita-citanya, terutama sang ibu. Pasalnya, menurut dia, ibu menginginkan seluruh putri-putrinya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.

Sewaktu di bangku SMA, perguruan tinggi sampai masa pengabdiannya sebagai dokter umum di Puskesmas ia aktif mengikuti kegiatan sosial. Ia selalu menyempatkan diri mengajar di sekolah Minggu. Ia mengaku begitu menyukai kegiatan tersebut.

Setelah selesai mengabdikan diri di Puskesmas, ia melanjutkan pendidikan Dokter Spesialis. Ia mengambil PPDS di bagian Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Masa-masa pendidikan yang penuh perjuangan tersebut ia jalani bersama suami dan kedua putrinya yang masih TK dan SD. “Masa-masa tersebut merupakan kenangan yang tidak terlupakan. Hanya karena anugerah-Nya saja, masa-masa sulit saat itu dapat dijalani,” kata dia.

Begitu lulus dan diwisuda pendidikan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang tahun 1994, ia ditempatkan pemerintah di Rumah Sakit Prof Dr Margono Soekarjo (RSMS) Purwokerto. (alfiatin)

 

Suka Mendengarkan Musik (jud)

 

Musik memang selalu saja menjadi pelarian saat pikiran mulai bosan dan penat. Alunan iramanya yang menenangkan akan membawa setiap yang mendengarkan terasa nyaman dan bahagia.

 

Seperti yang dirasakan dr Amelia SpKK. Wanita yang menyelesaikan studi spesialisnya pada Mei 1994 ini mengaku sangat menyukai musik. Kecintaannya pada musik ternyata mengalir dari darah kedua orangtuanya, yang terbiasa bermain alat-alat musik.

 

Bahkan, ia mengaku setiap hari harus mendengarkan musik. "Pasti harus mendengarkan musik. Karena membuat kita lebih dekat dengan Sang Pencipta," kata wanita yang gemar mendengarkan musik ini.

 

Tak jarang di mana pun ia berada, sesekali ia akan melantunkan langgam pujian kepada Tuhan. Mengikuti irama instrumen yang selalu ia putar, baik di ruang kerja, di kendaraan maupun di rumah.

 

"Karena pada prinsipnya, semua yang terjadi dalam kehidupan ini, hanya karena Kasih dan Anugerah-Nya semata," katanya. (alfiatin)

 

 

 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)