Cilacap

Prestasi Pekerja Taiwan dari Sampang

Jadi Buruh Migran, Lalu Bikin Novel

satelit post | Selasa, 16 Mei 2017 - 11:41:16 WIB | dibaca: 52 pembaca

 

Carlos, anjing Labrador kuning menggonggong setiap pagi di depan pagar di sebuah desa kecil di Taiwan. Ia menunggu “sahabatnya”, terus menggonggong. Sesaat kemudian, seorang perempuan bertahi lalat di atas lubang hidung kiri melambaikan tangan dan tersenyum kepadanya di seberang rumah. Carlos berhenti mengeluarkan suara. Ia senang. Ekornya dikibas-kibaskan, lalu masuk ke rumah.

 

Setiap pagi ketika keluar rumah, Erin Sumarsini (38) selalu disapa Carlos ketika bekerja sebagai pengasuh lansia di Taiwan. Carlos menjadi “teman setia” buat Erin.

 

Kakek yang diasuhnya di Taiwan tidak bisa ia tinggalkan. Ia harus perhatikan dan layani segala kebutuhan kakek yang sudah terbiasa dengan kursi roda itu. Di samping itu, ia harus melakukan kerja domestik lain seperti menyapu, membersihkan saluran air, dan lain-lain. Praktis, ia tidak sempat bergaul dengan buruh migran lainnya. Carlos lah yang menjadi pencair suasana hatinya ketika membuka pintu rumah setiap pagi.

 

Kesetiaan Carlos melekat di dalam kepala dan hati Erin. Kesan itu ingin ia abadikan sebagai catatan pengingat. Kemudian Erin menulis cerita pendek berjudul Kisah Ye Feng dan Carlos di sela-sela kesibukan sebagai buruh migran. Ia menulis dengan ponsel pintar yang ia miliki. Kisah Carlos kemudian mendapatkan penghargaan Merit Award dalam Taiwan Literature Awards for Migrants tahun 2014 dari Kementerian Tenaga Kerja Taiwan.

 

Kecintaan Erin terhadap literasi tidak lepas meski sudah jauh terbang ke negeri di Pulau Formosa itu. Kebetulan, majikannya memiliki perpustakaan dengan tema yang ia suka. “Ketika pekerjaan hampir membuat saya gila, buku-buku sastra itu yang menyelamatkan saya,” kata Erin mengenang masa lalunya.

 

Tahun 2015, Erin kembali ke tanah air. Ia melanjutkan kehidupan bersama suami dan dua orang putrinya di Desa Karangjati, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap. Memori tentang Carlos tidak hilang dalam ingatan Erin. Ia kembangkan cerita pendeknya menjadi novel dengan nama pena yang selalu ia gunakan: Erin Cipta.

 

Erin lantas mengirimkan naskahnya ke beberapa penerbit. “Banyak penerbit menolak. Ada yang bilang, jumlah halamannya kurang. Tapi bagi saya kisah itu sudah tidak bisa ditambah lagi,” katanya. Dengan sisa harapan dan mimpi, Erin kirimkan ke satu penerbit di Yogyakarta.

 

Di luar dugaan, naskah Erin diterima. Tahun 2017, bukunya dicetak sebanyak 4.000 eksemplar dengan judul Carlos: Seekor Anjing, Sebuah Kehidupan. “Alhamdulillah, kalau diterbitkan begitu,” katanya senang. Saat ini, bukunya sudah bisa dijumpai di toko buku besar di Indonesia.

 

“Pengerjaan novel ini yang lama adalah riset,” katanya. Untuk menulis novel itu, Erin banyak menonton film, membaca, dan berbincang tentang anjing. Ia lakukan itu sejak jadi buruh migran di Taiwan.

 

Ia tidak serta merta memindahkan memorinya tentang Carlos ke dalam karya fiksinya. Setelah riset, ia putuskan Carlos di dalam novel adalah ras anjing Akita, bukan Labrador. “Di dalam novel, Carlos berteman dengan anak penderita down syndrome. Ras Akita itu agresif, aku rasa cocok dengan ceritanya,” kata Erin.

 

Memori Erin tentang kerasnya kerja sebagai buruh migran dan kenangan bersama seekor anjing yang setia membawanya membentuk dunia yang ia impikan lewat karya sastra. Bagi Erin, kisah yang ia tuliskan bukan hanya dunia imaji. Lebih dari itu – seperti yang tertulis dalam bukunya – kisah tentang Carlos adalah kehidupan yang sesungguhnya.

 

Bekerja sebagai apapun, tidak ada artinya jika yang menjalani pekerjaan tidak melakukan perhitungan yang matang. Begitu juga menjadi buruh migran. Bekerja sebagai buruh migran identik dengan pekerjaan yang 3D (dark, dirty, dangerous). Namun, pada kondisi tertentu, ia bisa menjadi pilihan logis.

 

Kurang lebih begitu menurut Erin Sumarsini (38) ketika ditemui SatelitPost pada Sabtu (6/5) di kediamannya. Erin tidak pernah membayangkan akan menjadi buruh migran. Namun, persoalan ekonomi keluarga membuatnya berpikir ulang. Erin berangkat ke Taiwan sebagai buruh migran pada tahun 2012 di usia 33 tahun.

 

"Bagi saya, saat itu menjadi buruh migran adalah pilihan logis," katanya. Ibu dua orang putri itu menjelaskan, bahwa saat itu yang dibutuhkan ia dan keluarganya adalah uang dalam waktu singkat.

 

"Saya bisa bahasa Inggris, saya punya kemampuan menulis. Saya rasa itu bekal. Karena komunikasi itu penting (saat jadi buruh migran)," katanya bercerita. Erin bekerja sebagai personal assistant elderly dengan kontrak selama tiga tahun di negeri pulau daun itu.

 

Selama tiga tahun itu, Erin dan keluarga menyelesaikan masalah ekonomi keluarga sedikit demi sedikit. Tahun 2015, ia pulang ke rumahnya di Desa Karangjati, Kecamatan Sampang, Cilacap. "Alhamdulillah, masalah ekonomi selesai satu persatu. Sekarang saya sudah bisa mendapatkan sawah kembali," kata Erin.

 

Menurut Erin, jika pergaulan dan aktivitas buruh migran luas, akan jadi sesuatu yang bermanfaat di masa mendatang. Erin dan kawan-kawan sesama buruh migran membuat perpustakaan terbuka di sebuah stasiun di Taiwan dan berkembang hingga kini.

 

Saat ini Erin dan beberapa mantan buruh migran membuat Gerakan Masyarakat Sadar Baca dan Sastra (Gemas). Kegiatannya adalah perpustakaan di ruang publik dan distribusi buku untuk rumah-rumah baca di desa. Gemas sudah ada di beberapa kota seperti Cilacap, Kediri, Solo, dan Lampung. "Sesama kenalan (buruh migran) masih sering komunikasi dan berbagi terkait gerakan ini," katanya. (cr-1)










    Komentar Via Website : 0


    Nama

    Email

    Komentar



    Masukkan 6 kode diatas)