Ekonomi

Hutang Disunat, Bayar Disikat

Magang Dua | Jumat, 07 April 2017 - 10:55:18 WIB | dibaca: 48 pembaca

Dalam sebuah media sosial seorang tokoh masyarakat memberi komentar tentang hutang ribawi. Hutang di bank tercatat 200 juta, menerima uang 180 juta dan harus membayar 372 juta selama 10 tahun. Saya iseng menghitung angka ini dan membayangkan jadi tokoh yang ngedrumel panjang lebar di media sosial.

            Perkiraan saya beliau hutang di salah satu bank non syariah dengan mengambil produk Kredit Kepemilikan Rumah. Dengan kredit jenis ini beliau akan mengeluarkan beberapa biaya yang seharusnya disampaiakan dengan rinci oleh peugas bank. Biaya-biaya ini menjadi sangat besar, dengan nominal sampai Rp 20 juta saya membayangkan betapa dongkolnya beliau merasa disunat hutangnya hingga sejumlah itu.

Sebenarnya yang terjadi adalah, ada beberapa beban biaya seharusnya dibayarkan oleh nasabah  sebelum melaksanakan akad kredit. Biaya-biaya itu misalnya :

1. Biaya administrasi bank biasanya jumlahnya sekitar 1% dari jumlah pokok hutang.

2. Biaya provisi sekitar 1%.

3. Biaya asuransi jiwa tergantung umur nasabah.

4. Asuransi kebakaran rumah

5. Biaya pengikatan dengan notaris dll.

Biaya-biaya ini mestinya sudah diketahui oleh nasabah dan disepakati sejak awal sebelum akad ditandatangani  sehingga tidak terjadi penyunatan dana dan menimbulkan salah persepsi.

            Bagaimana jika kasusnya terjadi di bank syariah?

            Karena di bank syariah tidak menggunakan sistem bunga karena masuk dalam kategori riba, maka bank syariah di sini akan menggunakan beberapa akad sebagai dasar transaksi, bisa menggunakan akad jual beli biasa, akad sewa berakhir dengan kepemilikan, bisa juga dengan menggunakan akad musyarokah mutanaqisoh (ribet bahasanya).

            Yang paling mudah dijelaskan adalah contoh akad jual beli saja. Bank membeli rumah terlebih dahulu kepada pengembang perumahan, kemudian dijual kembali kepada nasabah dengan harga yang sudah ditambah margin keuntungan tertentu sesuai dengan hitungan bank. Dengan harga yang sudah ditambah margin keuntungan  rumah ini ditawarkan kepada nasabah dengan pola angsuran tetap selama 10 tahun. Jumlahnya angsurannya pasti dan tetap sesuai dengan kesepakatan, tidak bersifat floating atau mengambang jika bunga bank naik jumlah angsuran ikut naik.

            Bagaimana dengan biaya-biaya yang timbul di bank syariah untuk akad ini. Bank syariah tidak boleh mengenakan biaya yang tidak riil dalam semua jenis akad. Di Bank syariah tidak ada pendapatan dari administrasi karena seluruh biaya adalah riil cost yang dikeluarkan untuk proses berlangsungnya akad. Sehingga di bank syariah tidak ada biaya provisi.

Mengapa keseluruhan biaya sudah harus di bayar terlebih dahulu, agar transaksi dagang jual beli rumah berjalan sempurna. Rumah dengan harga Rp 200 juta harus dibayar penuh sejumlah Rp 200 juta. Tidak mungkin dibayar dengan harga Rp 180 juta.  Nasabah harus memiliki dana DP terlebih dahulu untuk memastikan dia memiliki kemampuan bayar plus membayar seluruh biaya administrasi  yang timbul sebelum akad berlangsung. Segala kondisi hitungan angka-angka ini harus betul-betul dipahami keduabelah pihak sehingga terjadi kondisi rela sama rela. Salam. (*)

 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)